Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, Februari 27, 2015

Paradox of Saving



Orang bijak mengatakan bahwa menabung adalah rahasia hidup sejahtera, ada pula peribahasa yang mengatakan hemat pangkal kaya. Masalah menabung atau hemat menjadi hal yang menarik karena adanya fenomena paradaoks menabung atau paradoks hemat (Paradox of Saving). Paradoks menabung atau hemat dapat diartikan secara sederhana sebagai hal yang baik, tetapi kalau sebagian besar orang terlalu hemat dan mengurangi belanja, maka hal tersebut menjadi tidak baik, bahkan berubah menjadi amat merugikan. Sesuai pandangan arus utama terhadap paradoks tersebut, kalau semua orang terlalu berhemat dan mengurangi belanja, maka hal itu akan menimbulkan efek domino.  Pemilik bisnis akan kekurangan pembeli,  ini akan menggerus keuntungan, sehingga perusahaan pun terpaksa harus mengurangi pekerja.  Dengan berkurangnya pekerja, akan bertambahlah pengangguran. 

Daya beli pun akan semakin berkurang dan keuntungan perusahaan semakin merosot. Akhirnya, perusahaan terpaksa harus menekan  jumlah pekerjanya lagi dan lagi, dan demikian seterusnya, sehingga efek makronya akan besar sekali, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.  Pertumbuhan ekonomi akan tersendat, pengangguran meningkat dan ekonomi memburuk. Secara langsung maupun tidak langsung, paradox of saving adalah serangan terhadap hidup hemat atau serangan terhadap menabung. Inilah tipikal pemikiran ekonomi Keynesian. 

Meski Keynes memang bukan orang pertama yang berpandangan demikian, pandangan ini menjadi amat populer lewat bukunya yang terbit di tahun 1930-an, The General Theory.  Dalam buku tersebut Keynes berpandangan bahwa tabungan atau uang simpanan yang tidak memasuki pasar simpan-pinjam (sebagai contoh, uang yang sering disimpan di bawah kasur) sebagai investasi adalah sebuah bentuk kebocoran (leakage) dalam proses produksi-konsumsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar