Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, Februari 23, 2015

Kontrak Ulysses


Prof.AF:
Setiap minggu pagi saya selalu menghadapi “pertarungan” tujuan jangka panjang dan kendala jangka pendek yang ada di depan saya. Jam tujuh pagi setiap minggu selalu saya jadwalkan untuk berenang (karena lewat jam 8 kolam renang akan penuh sesak dengan anak-anak) demi memelihara kesehatan tubuh (tujuan jangka panjang). Namun setiap minggu pagi itu pula saya menghadapi pertarungan situasi yang kadang tidak menyenangkan: cuaca yang hujan, udara yang dingin, dan yang lebih parah lagi karena saya baru tidur beberapa jam saja malam sebelumnya (kendala jangka pendek). Hal yang sama saya alami pagi ini. Saya baru tidur jam 2 dini hari dan jam 4.30 sudah terbangun, kemudian berusaha tidur lagi. Untuk menjalankan komitment berenang jam 7 terasa sangat berat karena mata yang masih terkantuk-kantuk dan tubuh yang masih sangat lelah. Namun karena saya sudah terikat dengan “kontrak Ulysses”, saya pun tetap berangkat berenang, hambatan jangka pendek akhirnya mampu saya taklukan.!

Pertaruang seperti ini sebenarnya tidak melulu saya hadapi tiap minggu pagi, namun juga dalam beberapa hal, termasuk berusaha menyelesaikan penulisan buku yang tertunda-tunda. Tujuan jangka panjang, yakni terbitnya buku yang bermanfaat untuk khalayak, terhambat oleh godaan jengke pendek yang lebih memberikan kepuasan yang berbeda. Demikian juga dengan beberapa niat “saya akan ini, saya akan itu lainnya” yang pada akhirnya terkadang saya sering kalah juga dalam pertarungan tersebut. 

Mungkin hal yang sama sering anda hadapi dalam kehidupan sehari-hari baik dalam urusan pribadi anda maupun urusan komunal seperti di tempat kerja atau rumah tangga. Anda yang mahasiswa mungkin sudah berniat hari ini untuk menyelesaikan draft thesis, disertasi dan sebagainya yang akan menghantrakan anda menjadi Master atau Doktor (jangka panjang), namun anda juga sering tidak bisa keluar dari godaan jangka pendek yang membuat semuanya terseok-seok. Atau anda berusaha untuk diet demi kesehatan tubuh anda namun anda juga tidak bisa lepas dari godaan lezatnya hidangan di depan anda. Anda berniat untuk konsentrasi bekerja, namun godaan WhatsApp, BBM facebook atau twitter sulit untuk anda abaikan. Atau anda berusaha untuk menabung untuk masa depan anda, namun godaan gadget baru, baju baru , mobil baru, tas baru dan lain sebagainya terus membombardir keinginan untuk. Sebenarnya semua ini bisa kita hindari kalau kita melakukan kontrak Ulysses pada diri kita sendiri. Kontrak Ulysses adalah keputusan sukarela yang dibuat diri sendiri yang mengikat anda untuk kepentingan jangka panjang anda.

Adalah Ulysses (atau Odyssey dalam Bahasa Yunani) yang merupakan tokoh pahlawan pada karya sastra Homer yang dikenal memiliki komitmen kuat yang kemudian oleh para ilmuan dipinjam namanya dalam “kontrak Ulysses”. Sekembalinya memenangkan perang Trojan, Ulysses bersama anak buahnya harus mengarungi lautan kembali menuju Ithaca. Namun di tengah perjalanan mereka harus melewati pulau karang yang dihuni para peri yang senandungnya akan menggoda para pelaut untuk memasuki wilayah tersebut sehingga mereka akan kandas dan tenggelam. Senandung para peri ini pun bisa membuat mereka kehilangan akal sehat untuk mengambil keputusan. Pulau dan senandung peri ini dinamakan “Land of sirens” atau pulau Sirene. Dari sinilah kata sirine diambil sehingga kalau anda mendenger sirine yang meraung raung terus menerus anda bisa senewen. Ulysses diperingatkan untuk menghindari pulau sirine ini dengan cara apapun juga. Namun keinginan tahuan Ulysses atas senandung Siren ini begitu kuat. Ia pun membuat rencana sebelum kapal mereka memasuik pulau siren. 

Ulysses meminta anak buahnya untuk menutup telinga mereka dengan wax (sehingga mereka tidak mendengar senandung siren), dan meminta anak buahnya mengikatnya kuat-kuat di tiang layar. Ulysses juga meminta anak buahnya untuk tidak membuka ikatannya meski mereka melihat Ulysses sangat menderita sekalipun. Dan apapun reaksi yang terjadi pada Ulysses ketika ia mendengar senandung siren itu, anak buahnya diminta untuk terus berlayar sampai mereka lewat dengan selamat. Ulysses sadar bahwa senandung peri ini akan menggodanya dan menjebaknya ke pulau karang untuk kemudian kandas dan tenggelam, namun ia ingin tetap selamat sambil mengetahui hambatan yang dihadapi. Inilah kontrak Ulysses. 

Daniel Ariely (sering disebut Dan Ariely saja), pakar ekonomi perilaku, secara sederhana menginterpretasikan kontrak ini sebagai “Saya sadar akan kegagalan yang terjadi pada saya di masa datang, maka saya harus melakukan sesuatu sekarang untuk mencegah kegagalan itu terjadi”. Komitmen tersebut adalah kesadaran pribadi yang mengikat diri kita sendiri.Ariely lebih jauh mengatakan bahwa dengan kontrak Ulysses kita bisa mencapai tujuan jangka panjang kita dengan memahami kendala jangka pendek dan mengubah cara fikir dan pandangan kita tentang kendala jangka pendek tersebut. Kegagalann kita akan memahami kendala jangka pendek ini, kata Ariely, salah satunya disebabkan karena hasrat kita yang mengalahkan (override) sense kita. Namun jika kita fokus pada manfaat jangka panjang, maka kita bisa mengatasi overriding tersebut. Kita bisa lebih produktif, makan lebih sehat, olah raga lebih teratur dan lain sebagainya.

Menjalankan kontrak Ulysses memang tidaklah mudah. Gangguan dan godaan senantiasa memborbardir kita setiap saat. Kadang kita menang, kadang kita menyerah, namun jika kita mampu mengubah kendala saat ini dengan pola fikir yang berbeda maka kontrak itu bisa kita jalankan. Setiap kita pasti akan menghadapi dilemma Ulysses ini. Komitemen saya untuk mengajar atau melayani mahasiswa konsultasi, misalnya, kadang harus berhadapan dengan kendala lain seperti kelelahan atau gangguan lain yang silih berganti. Namun saya harus berpegang pada kontrak Ulysses dan sayapun mengubah lingkungan kendala tersebut dengan cara fikir yang berbeda. Mengubah pola fikir bahwa mengajar dan membimbing bukanlah beban namun bisa dijalankan secara lebih enjoyable. Resep yang saya coba tiru dari Daniel Ariely dan para professor saya.

Implikasi kontrak Ulysses ini sebenarnya cukup penting jika kita ekstrapolasi ke skala makro. Mungin kita tidak harus menyaksikan kegaduhan dan berbagai polemik yang berlaurt-larut di republik ini jika para pemimpin kita sadar akan konsekuensi besar yang mereka putuskan di masa mendatang. Jika saja mereka tidak tergoda pada “sirine-sirine” yang “override” nalar mereka, “kapal” besar negara ini bisa melewatinya dan mereka bisa fokus menjalankan program-program pembangunan jangka panjang yang telah ditetapkan. Kontrak Ulysses menyatakan bahwa pemimpin tidak harus menutup telinga (sebagaimana Ulyses tidak menutup telinganya) namun mengikat dirinya pada kontrak rakyat yang telah diucapkannya. Dan apapun yang ia dengar dan rasakan ia terus terikat kuat pada ikatan tersebut dan memerintahkan “krew” kapal untuk terus berlayar menghindari batu karang terjal yang menghadang. Sebagai penutup dari tulisan ini kembali saya kutipkan apa yang diucapkan oleh Dan Ariely :” “It’s not a case where you make one decision and it kills you, it’s a sequence of bad decisions that will ultimately lead to your mortality” (Bukan karena satu keputusan yang menghancurkan anda, namun sekuense keputusan buruk lah yang pada akhirnya menghantarkan anda ke kehancuran). Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar