Prof.AF:
Setiap minggu pagi saya selalu menghadapi “pertarungan” tujuan jangka
panjang dan kendala jangka pendek yang ada di depan saya. Jam tujuh
pagi setiap minggu selalu saya jadwalkan untuk berenang (karena lewat
jam 8 kolam renang akan penuh sesak dengan anak-anak) demi memelihara
kesehatan tubuh (tujuan jangka panjang). Namun setiap minggu pagi itu
pula saya menghadapi pertarungan situasi yang kadang tidak menyenangkan:
cuaca yang hujan, udara yang dingin, dan yang lebih parah lagi karena
saya baru tidur beberapa jam saja malam sebelumnya (kendala jangka
pendek). Hal yang sama saya alami pagi ini. Saya baru tidur jam 2 dini
hari dan jam 4.30 sudah terbangun, kemudian berusaha tidur lagi. Untuk
menjalankan komitment berenang jam 7 terasa sangat berat karena mata
yang masih terkantuk-kantuk dan tubuh yang masih sangat lelah. Namun
karena saya sudah terikat dengan “kontrak Ulysses”, saya pun tetap
berangkat berenang, hambatan jangka pendek akhirnya mampu saya
taklukan.!
Pertaruang seperti ini sebenarnya tidak melulu saya hadapi tiap
minggu pagi, namun juga dalam beberapa hal, termasuk berusaha
menyelesaikan penulisan buku yang tertunda-tunda. Tujuan jangka panjang,
yakni terbitnya buku yang bermanfaat untuk khalayak, terhambat oleh
godaan jengke pendek yang lebih memberikan kepuasan yang berbeda.
Demikian juga dengan beberapa niat “saya akan ini, saya akan itu
lainnya” yang pada akhirnya terkadang saya sering kalah juga dalam
pertarungan tersebut.
Mungkin hal yang sama sering anda hadapi dalam kehidupan sehari-hari
baik dalam urusan pribadi anda maupun urusan komunal seperti di tempat
kerja atau rumah tangga. Anda yang mahasiswa mungkin sudah berniat hari
ini untuk menyelesaikan draft thesis, disertasi dan sebagainya yang
akan menghantrakan anda menjadi Master atau Doktor (jangka panjang),
namun anda juga sering tidak bisa keluar dari godaan jangka pendek yang
membuat semuanya terseok-seok. Atau anda berusaha untuk diet demi
kesehatan tubuh anda namun anda juga tidak bisa lepas dari godaan
lezatnya hidangan di depan anda. Anda berniat untuk konsentrasi bekerja,
namun godaan WhatsApp, BBM facebook atau twitter sulit untuk anda
abaikan. Atau anda berusaha untuk menabung untuk masa depan anda, namun
godaan gadget baru, baju baru , mobil baru, tas baru dan lain sebagainya
terus membombardir keinginan untuk. Sebenarnya semua ini bisa kita
hindari kalau kita melakukan kontrak Ulysses pada diri kita sendiri.
Kontrak Ulysses adalah keputusan sukarela yang dibuat diri sendiri yang
mengikat anda untuk kepentingan jangka panjang anda.
Adalah Ulysses (atau Odyssey dalam Bahasa Yunani) yang merupakan
tokoh pahlawan pada karya sastra Homer yang dikenal memiliki komitmen
kuat yang kemudian oleh para ilmuan dipinjam namanya dalam “kontrak
Ulysses”. Sekembalinya memenangkan perang Trojan, Ulysses bersama anak
buahnya harus mengarungi lautan kembali menuju Ithaca. Namun di tengah
perjalanan mereka harus melewati pulau karang yang dihuni para peri
yang senandungnya akan menggoda para pelaut untuk memasuki wilayah
tersebut sehingga mereka akan kandas dan tenggelam. Senandung para peri
ini pun bisa membuat mereka kehilangan akal sehat untuk mengambil
keputusan. Pulau dan senandung peri ini dinamakan “Land of sirens” atau
pulau Sirene. Dari sinilah kata sirine diambil sehingga kalau anda
mendenger sirine yang meraung raung terus menerus anda bisa senewen.
Ulysses diperingatkan untuk menghindari pulau sirine ini dengan cara
apapun juga. Namun keinginan tahuan Ulysses atas senandung Siren ini
begitu kuat. Ia pun membuat rencana sebelum kapal mereka memasuik pulau
siren.
Ulysses meminta anak buahnya untuk menutup telinga mereka dengan
wax (sehingga mereka tidak mendengar senandung siren), dan meminta anak
buahnya mengikatnya kuat-kuat di tiang layar. Ulysses juga meminta anak
buahnya untuk tidak membuka ikatannya meski mereka melihat Ulysses
sangat menderita sekalipun. Dan apapun reaksi yang terjadi pada Ulysses
ketika ia mendengar senandung siren itu, anak buahnya diminta untuk
terus berlayar sampai mereka lewat dengan selamat. Ulysses sadar bahwa
senandung peri ini akan menggodanya dan menjebaknya ke pulau karang
untuk kemudian kandas dan tenggelam, namun ia ingin tetap selamat sambil
mengetahui hambatan yang dihadapi. Inilah kontrak Ulysses.
Daniel
Ariely (sering disebut Dan Ariely saja), pakar ekonomi perilaku, secara
sederhana menginterpretasikan kontrak ini sebagai “Saya sadar akan
kegagalan yang terjadi pada saya di masa datang, maka saya harus
melakukan sesuatu sekarang untuk mencegah kegagalan itu terjadi”.
Komitmen tersebut adalah kesadaran pribadi yang mengikat diri kita
sendiri.Ariely lebih jauh mengatakan bahwa dengan kontrak Ulysses kita
bisa mencapai tujuan jangka panjang kita dengan memahami kendala jangka
pendek dan mengubah cara fikir dan pandangan kita tentang kendala jangka
pendek tersebut. Kegagalann kita akan memahami kendala jangka pendek
ini, kata Ariely, salah satunya disebabkan karena hasrat kita yang
mengalahkan (override) sense kita. Namun jika kita fokus pada manfaat
jangka panjang, maka kita bisa mengatasi overriding tersebut. Kita bisa
lebih produktif, makan lebih sehat, olah raga lebih teratur dan lain
sebagainya.
Menjalankan kontrak Ulysses memang tidaklah mudah. Gangguan dan
godaan senantiasa memborbardir kita setiap saat. Kadang kita menang,
kadang kita menyerah, namun jika kita mampu mengubah kendala saat ini
dengan pola fikir yang berbeda maka kontrak itu bisa kita jalankan.
Setiap kita pasti akan menghadapi dilemma Ulysses ini. Komitemen saya
untuk mengajar atau melayani mahasiswa konsultasi, misalnya, kadang
harus berhadapan dengan kendala lain seperti kelelahan atau gangguan
lain yang silih berganti. Namun saya harus berpegang pada kontrak
Ulysses dan sayapun mengubah lingkungan kendala tersebut dengan cara
fikir yang berbeda. Mengubah pola fikir bahwa mengajar dan membimbing
bukanlah beban namun bisa dijalankan secara lebih enjoyable. Resep yang
saya coba tiru dari Daniel Ariely dan para professor saya.
Implikasi kontrak Ulysses ini sebenarnya cukup penting jika kita
ekstrapolasi ke skala makro. Mungin kita tidak harus menyaksikan
kegaduhan dan berbagai polemik yang berlaurt-larut di republik ini jika
para pemimpin kita sadar akan konsekuensi besar yang mereka putuskan di
masa mendatang. Jika saja mereka tidak tergoda pada “sirine-sirine” yang
“override” nalar mereka, “kapal” besar negara ini bisa melewatinya dan
mereka bisa fokus menjalankan program-program pembangunan jangka panjang
yang telah ditetapkan. Kontrak Ulysses menyatakan bahwa pemimpin tidak
harus menutup telinga (sebagaimana Ulyses tidak menutup telinganya)
namun mengikat dirinya pada kontrak rakyat yang telah diucapkannya. Dan
apapun yang ia dengar dan rasakan ia terus terikat kuat pada ikatan
tersebut dan memerintahkan “krew” kapal untuk terus berlayar menghindari
batu karang terjal yang menghadang. Sebagai penutup dari tulisan ini
kembali saya kutipkan apa yang diucapkan oleh Dan Ariely :” “It’s not a
case where you make one decision and it kills you, it’s a sequence of
bad decisions that will ultimately lead to your mortality” (Bukan karena
satu keputusan yang menghancurkan anda, namun sekuense keputusan buruk
lah yang pada akhirnya menghantarkan anda ke kehancuran). Semoga
bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar