Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, Februari 27, 2015

Paradox of Saving



Orang bijak mengatakan bahwa menabung adalah rahasia hidup sejahtera, ada pula peribahasa yang mengatakan hemat pangkal kaya. Masalah menabung atau hemat menjadi hal yang menarik karena adanya fenomena paradaoks menabung atau paradoks hemat (Paradox of Saving). Paradoks menabung atau hemat dapat diartikan secara sederhana sebagai hal yang baik, tetapi kalau sebagian besar orang terlalu hemat dan mengurangi belanja, maka hal tersebut menjadi tidak baik, bahkan berubah menjadi amat merugikan. Sesuai pandangan arus utama terhadap paradoks tersebut, kalau semua orang terlalu berhemat dan mengurangi belanja, maka hal itu akan menimbulkan efek domino.  Pemilik bisnis akan kekurangan pembeli,  ini akan menggerus keuntungan, sehingga perusahaan pun terpaksa harus mengurangi pekerja.  Dengan berkurangnya pekerja, akan bertambahlah pengangguran. 

Daya beli pun akan semakin berkurang dan keuntungan perusahaan semakin merosot. Akhirnya, perusahaan terpaksa harus menekan  jumlah pekerjanya lagi dan lagi, dan demikian seterusnya, sehingga efek makronya akan besar sekali, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.  Pertumbuhan ekonomi akan tersendat, pengangguran meningkat dan ekonomi memburuk. Secara langsung maupun tidak langsung, paradox of saving adalah serangan terhadap hidup hemat atau serangan terhadap menabung. Inilah tipikal pemikiran ekonomi Keynesian. 

Meski Keynes memang bukan orang pertama yang berpandangan demikian, pandangan ini menjadi amat populer lewat bukunya yang terbit di tahun 1930-an, The General Theory.  Dalam buku tersebut Keynes berpandangan bahwa tabungan atau uang simpanan yang tidak memasuki pasar simpan-pinjam (sebagai contoh, uang yang sering disimpan di bawah kasur) sebagai investasi adalah sebuah bentuk kebocoran (leakage) dalam proses produksi-konsumsi.

Senin, Februari 23, 2015

Kontrak Ulysses


Prof.AF:
Setiap minggu pagi saya selalu menghadapi “pertarungan” tujuan jangka panjang dan kendala jangka pendek yang ada di depan saya. Jam tujuh pagi setiap minggu selalu saya jadwalkan untuk berenang (karena lewat jam 8 kolam renang akan penuh sesak dengan anak-anak) demi memelihara kesehatan tubuh (tujuan jangka panjang). Namun setiap minggu pagi itu pula saya menghadapi pertarungan situasi yang kadang tidak menyenangkan: cuaca yang hujan, udara yang dingin, dan yang lebih parah lagi karena saya baru tidur beberapa jam saja malam sebelumnya (kendala jangka pendek). Hal yang sama saya alami pagi ini. Saya baru tidur jam 2 dini hari dan jam 4.30 sudah terbangun, kemudian berusaha tidur lagi. Untuk menjalankan komitment berenang jam 7 terasa sangat berat karena mata yang masih terkantuk-kantuk dan tubuh yang masih sangat lelah. Namun karena saya sudah terikat dengan “kontrak Ulysses”, saya pun tetap berangkat berenang, hambatan jangka pendek akhirnya mampu saya taklukan.!

Pertaruang seperti ini sebenarnya tidak melulu saya hadapi tiap minggu pagi, namun juga dalam beberapa hal, termasuk berusaha menyelesaikan penulisan buku yang tertunda-tunda. Tujuan jangka panjang, yakni terbitnya buku yang bermanfaat untuk khalayak, terhambat oleh godaan jengke pendek yang lebih memberikan kepuasan yang berbeda. Demikian juga dengan beberapa niat “saya akan ini, saya akan itu lainnya” yang pada akhirnya terkadang saya sering kalah juga dalam pertarungan tersebut. 

Mungkin hal yang sama sering anda hadapi dalam kehidupan sehari-hari baik dalam urusan pribadi anda maupun urusan komunal seperti di tempat kerja atau rumah tangga. Anda yang mahasiswa mungkin sudah berniat hari ini untuk menyelesaikan draft thesis, disertasi dan sebagainya yang akan menghantrakan anda menjadi Master atau Doktor (jangka panjang), namun anda juga sering tidak bisa keluar dari godaan jangka pendek yang membuat semuanya terseok-seok. Atau anda berusaha untuk diet demi kesehatan tubuh anda namun anda juga tidak bisa lepas dari godaan lezatnya hidangan di depan anda. Anda berniat untuk konsentrasi bekerja, namun godaan WhatsApp, BBM facebook atau twitter sulit untuk anda abaikan. Atau anda berusaha untuk menabung untuk masa depan anda, namun godaan gadget baru, baju baru , mobil baru, tas baru dan lain sebagainya terus membombardir keinginan untuk. Sebenarnya semua ini bisa kita hindari kalau kita melakukan kontrak Ulysses pada diri kita sendiri. Kontrak Ulysses adalah keputusan sukarela yang dibuat diri sendiri yang mengikat anda untuk kepentingan jangka panjang anda.

Adalah Ulysses (atau Odyssey dalam Bahasa Yunani) yang merupakan tokoh pahlawan pada karya sastra Homer yang dikenal memiliki komitmen kuat yang kemudian oleh para ilmuan dipinjam namanya dalam “kontrak Ulysses”. Sekembalinya memenangkan perang Trojan, Ulysses bersama anak buahnya harus mengarungi lautan kembali menuju Ithaca. Namun di tengah perjalanan mereka harus melewati pulau karang yang dihuni para peri yang senandungnya akan menggoda para pelaut untuk memasuki wilayah tersebut sehingga mereka akan kandas dan tenggelam. Senandung para peri ini pun bisa membuat mereka kehilangan akal sehat untuk mengambil keputusan. Pulau dan senandung peri ini dinamakan “Land of sirens” atau pulau Sirene. Dari sinilah kata sirine diambil sehingga kalau anda mendenger sirine yang meraung raung terus menerus anda bisa senewen. Ulysses diperingatkan untuk menghindari pulau sirine ini dengan cara apapun juga. Namun keinginan tahuan Ulysses atas senandung Siren ini begitu kuat. Ia pun membuat rencana sebelum kapal mereka memasuik pulau siren. 

Ulysses meminta anak buahnya untuk menutup telinga mereka dengan wax (sehingga mereka tidak mendengar senandung siren), dan meminta anak buahnya mengikatnya kuat-kuat di tiang layar. Ulysses juga meminta anak buahnya untuk tidak membuka ikatannya meski mereka melihat Ulysses sangat menderita sekalipun. Dan apapun reaksi yang terjadi pada Ulysses ketika ia mendengar senandung siren itu, anak buahnya diminta untuk terus berlayar sampai mereka lewat dengan selamat. Ulysses sadar bahwa senandung peri ini akan menggodanya dan menjebaknya ke pulau karang untuk kemudian kandas dan tenggelam, namun ia ingin tetap selamat sambil mengetahui hambatan yang dihadapi. Inilah kontrak Ulysses. 

Daniel Ariely (sering disebut Dan Ariely saja), pakar ekonomi perilaku, secara sederhana menginterpretasikan kontrak ini sebagai “Saya sadar akan kegagalan yang terjadi pada saya di masa datang, maka saya harus melakukan sesuatu sekarang untuk mencegah kegagalan itu terjadi”. Komitmen tersebut adalah kesadaran pribadi yang mengikat diri kita sendiri.Ariely lebih jauh mengatakan bahwa dengan kontrak Ulysses kita bisa mencapai tujuan jangka panjang kita dengan memahami kendala jangka pendek dan mengubah cara fikir dan pandangan kita tentang kendala jangka pendek tersebut. Kegagalann kita akan memahami kendala jangka pendek ini, kata Ariely, salah satunya disebabkan karena hasrat kita yang mengalahkan (override) sense kita. Namun jika kita fokus pada manfaat jangka panjang, maka kita bisa mengatasi overriding tersebut. Kita bisa lebih produktif, makan lebih sehat, olah raga lebih teratur dan lain sebagainya.

Menjalankan kontrak Ulysses memang tidaklah mudah. Gangguan dan godaan senantiasa memborbardir kita setiap saat. Kadang kita menang, kadang kita menyerah, namun jika kita mampu mengubah kendala saat ini dengan pola fikir yang berbeda maka kontrak itu bisa kita jalankan. Setiap kita pasti akan menghadapi dilemma Ulysses ini. Komitemen saya untuk mengajar atau melayani mahasiswa konsultasi, misalnya, kadang harus berhadapan dengan kendala lain seperti kelelahan atau gangguan lain yang silih berganti. Namun saya harus berpegang pada kontrak Ulysses dan sayapun mengubah lingkungan kendala tersebut dengan cara fikir yang berbeda. Mengubah pola fikir bahwa mengajar dan membimbing bukanlah beban namun bisa dijalankan secara lebih enjoyable. Resep yang saya coba tiru dari Daniel Ariely dan para professor saya.

Implikasi kontrak Ulysses ini sebenarnya cukup penting jika kita ekstrapolasi ke skala makro. Mungin kita tidak harus menyaksikan kegaduhan dan berbagai polemik yang berlaurt-larut di republik ini jika para pemimpin kita sadar akan konsekuensi besar yang mereka putuskan di masa mendatang. Jika saja mereka tidak tergoda pada “sirine-sirine” yang “override” nalar mereka, “kapal” besar negara ini bisa melewatinya dan mereka bisa fokus menjalankan program-program pembangunan jangka panjang yang telah ditetapkan. Kontrak Ulysses menyatakan bahwa pemimpin tidak harus menutup telinga (sebagaimana Ulyses tidak menutup telinganya) namun mengikat dirinya pada kontrak rakyat yang telah diucapkannya. Dan apapun yang ia dengar dan rasakan ia terus terikat kuat pada ikatan tersebut dan memerintahkan “krew” kapal untuk terus berlayar menghindari batu karang terjal yang menghadang. Sebagai penutup dari tulisan ini kembali saya kutipkan apa yang diucapkan oleh Dan Ariely :” “It’s not a case where you make one decision and it kills you, it’s a sequence of bad decisions that will ultimately lead to your mortality” (Bukan karena satu keputusan yang menghancurkan anda, namun sekuense keputusan buruk lah yang pada akhirnya menghantarkan anda ke kehancuran). Semoga bermanfaat.

Jumat, Januari 09, 2015

anglerfish

Sumber: Media Biru Indonesia.

Cara Ikan Iblis Kawin, Jadi Parasit di Tubuh Pasangan
_____________________________
Ada yang menjuluki anglerfish sebagai ikan iblis. Bentuk fisik ikan ini memang aneh. Tapi cara ikan ini bereproduksi juga tak kalah anehnya. Secara fisik, ikan anglerfish memiliki gigi-giginya yang tajam. Ikan ini juga mempunyai sebuah antena di kepalanya. Di ujung antena ada bola bercahaya. Biasanya mangsa ikan ini akan tertarik pada cahaya di bola itu, persis seperti kisah film animasi anak-anak, Finding Nemo. Begitu mangsa mendekat, si anglerfish langsung menyergap dan melahapnya.

Tapi perilaku kawin ikan ini bukanlah tontonan yang cocok bagi anak-anak. Lebih cocok untuk film horor bahkan. Mengapa? Semua anglerfish termasuk ke dalam kelompok ikan yang disebut Ordo Lophiiformes. Tapi dalam ordo ini ada subordo ceratioidei, khusus untuk kelompok anglerfish yang paling aneh dari yang aneh. Total ada 160 spesies dalam subordo ini. Mereka biasanya ditemukan di kedalaman di bawah 300 meter dari permukaan laut. 

Mengapa disebut aneh dari yang aneh? Salah satunya adalah karena perilaku kawinnya. Anglerfish yang termasuk subordo Ceratioidei mempunyai perilaku kawin yang ekstrim. Sebagai contoh pada spesies Ceratias holboelli, menurut Ted Pietsch, kurator ikan di Museum Burke di Universitas Washington, betina ukurannya 60 kali lebih panjang dan bobotnya 500 ribu kali lebih berat ketimbang yang jantan. Malah, pejantan dari spesies Photocorynus spiniceps bisa disebut sebagai vertebrata atau hewan bertulang belakang terkecil di dunia. 

Anglerfish Ceratioidei jantan dan betina sama-sama melewati masa metamorfosis sebelum jadi ikan dewasa. Betina tumbuh dewasa dengan gigi-gigi perobek daging dan antena pemikat. Sedangkan jantan dewasa kadangkala kehilangan giginya, berganti semacam tentakel berbentuk gigi, yang nantinya berguna saat ia kawin. Menurut Pietsch, anglerfish jantan menghabiskan masa dewasanya mencari pasangan. Begitu ketemu, dia memakai gigi tentakelnya untuk menempel di betina dalam posisi bagian atas ke bawah.

Tak sekadar menempel, si jantan dan betina itu sebetulnya jadi satu jaringan. Bahkan, sistem sirkulasi kedua ikan itu juga terhubung. Belum diketahui bagaimana itu bisa terjadi. "Bagaimana perilaku penggabungan jaringan ini terjadi belum pernah diteliti karena mustahil mendapatkan spesimen anglerfish dalam keadaan hidup," tutur Pietsch, seperti dikutip Livescience, kemarin. Begitu terhubung, si jantan sangat tergantung pada asupan nutrisi yang dibawa oleh darah si betina, seperti parasit. 

Si jantan juga akan tumbuh lebih besar ketimbang Ceratioidei lain yang berenang bebas dan masih mencari pasangannya. Malah ada istilah "obligatory parasitism" yang disematkan ilmuwan pada sebagian ikan ini. Artinya, pejantan takkan pernah dewasa kalau gagal menjadi parasit di tubuh betina. Ikan ini akan mati kalau tak bertemu dengan pasangan. Anglerfish betina tak punya pilihan untuk lepas dari perilaku parasitisme jantan. Malah, pada spesies Cryptopsaras, seekor betina bisa ditempeli sampai delapan pejantan.

Ketika betina siap untuk bereproduksi, maka pembuahan terjadi secara eksternal. Jantan dan betina secara bersamaan melepas sel sperma dan sel telur ke air. Begitu pun kalau si betina ditempeli banyak pejantan. Sinkronisasi pelepasan sperma dan sel telur diatur melalui sebuah komunikasi hormon, kata Pietsch.
Tapi tak semua jenis Ceratioidei adalah pejantan parasit selamanya. Ada juga spesies lain yang sebentar saja menempel di tubuh betina, setelah pembuahan terjadi ia melepaskan diri lagi dari pasangannya.

Rabu, Desember 31, 2014

Substitution

Peralihan

by YW


Pagi hari kemarin Abu Yuusuf berangkat menunaikan kewajibannya sebagai seorang peneliti untuk mempresentasikan hasil kajiannya kepada pengguna dan publik. Abu Yuusuf dijemput kedua koleganya pukul 05.15 dengan menggunakan mobil jemputan. Pagi itu, Abu Yuusuf harus mengejar dua tempat berbeda dalam waktu dua jam di Jakarta, yaitu Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Penting) serta Hotel Mercure Ancol.  Sedianya diperkirakan ia akan tiba di Hotel Mencure pukul 07.00 untuk drop empat koleganya dan dengan mobil yang sama ia menuju Kantor Kemenristek Penting dan kembali ke Mencure dalam dua jam. 
Setelah menjemput Abu Yuusuf, kendaraan yang ditumpanginya itu harus menjemput dua koleganya yang lain. Akan tetapi, rencana dan realisasi ternyata berbicara lain. Satu kolega yang harus dijemputnya ternyata belum siap dijemput dan kendaraan harus menunggu hingga hampir satu jam. Akhirnya, Abu Yuusuf membuat rencana lain, yaitu ia menggunakan kereta api dan menyilahkan koleganya berangkat terlebih dahulu menuju Hotel Mencure Ancol.
Singkat cerita Abu Yuusuf sampai di Stasiun Sudirman dan dengan menggunakan taxi Express menuju Kemenristek Penting. Di tengah perjalanan ia sampaikan kepada sopir taxi bahwa setelah dari Kemenristek Penting, ia akan pergi ke Hotel Mercure Ancol dan sopir taxi itupun menyatakan kesediaannya untuk menunggu dan mengantarkan Abu Yuusuf ke tempat akhir tujuannya pagi itu.
Tepat pukul 08.30 WIB ia sudah kembali d dalam mobil taxi Express yang telah menunggunya lebih kurang 1 jam.  Di tengah perjalanan, Abu Yuusuf memulai perbincangan dengan sopir taxi tentang kejadian yang belakangan menimpa penyedia jasa transportasi terbesar kedua di Jakarta setelah taxi Blue Bird tersebut. Sopir taxi Express hanya tersenyum simpul dan menyatakan bahwa Abu Yuusuf cukup bijak memandang berita tersebut, karena memang mobil yang dikendarai pelaku merupakan mobil curian.  Obrolan tersebut tidak terasa mengantarkan Abu Yuusuf tiba di Mercure pukul 08.50 dan setelah membayar biaya jasa transportasinya, akhirnya tepat pukul 08.55 WIB, Abu Yuusuf sudah bergabung kembali dengan rekannya di Hotel Mercure Ancol.
Abu Yuusuf kemudian bersyukur kepada Alloh SWT atas perubahan rencana yang dilakukan akibat adanya keterbatasan waktu yang dimilikinya pagi itu. Alloh SWT telah menunjukkan jalan agar ia mengalihkan penggunaan jasa transportasi dari mobil jemputan kantor menjadi jasa transportasi publik (kereta api dan taxi) sehingga ia bisa menyelesaikan kedua tugasnya pagi itu dengan mudah dan lancar. Ternyata substitusi penggunaan jasa transportasi pagi itu, telah membawa efek ganda manfaat ekonomi transportasi yang berkualitas, karena bukan hanya tiga penyedia jasa pelayanan transportasi yang mendapatkan efek ganda perubahan melainkan juga efek ganda bagi silaturahim yang terjadi diantara ketiganya. Kendatipun biaya transaksi yang harus dikeluarkan bertambah, akan tetapi hal itu tidak sebanding dengan manfaat pelajaran yang diperolehnya pagi itu.

Eksternalitas

Externality 

by YW


Abu Yuusuf dihadiahi sebotol madu pada sebuah pameran organik di Lapangan Sempur beberapa waktu lalu. Madu tersebut merupakan madu yang dikumpulkan dan diproduksi dari sarang lebah madu buatan yang sengaja dibudidayakannya.
Menurut si Akang (lupa nama), madu yang diproduksi lebah budidaya cukup banyak terlebih bilamana musim buah-buahan tiba, produksinya terkadang bisa mencapai hampir 1.5 kali lipat. Si Akang juga menuturkan bahwa para pekebun di sekitar tempatnya berbudidaya lebah madu merasakan bahwa hasil buah-buahan mereka mengalami lonjakan produktivitas setelah si Akang berbudidaya lebah madu.
Abu Yuusuf kemudian teringat akan materi kuliah ekonomi sumberdaya kelautan yang disampaikan gurunya pada tahun 2003 mengenai adanya eksternalitas atau dampak yang ditimbulkan dan dirasakan seseorang akibat adanya suatu aktivitas yang dilakukan orang lain. Eksternalitas itu dapat berbentuk eksternalitas positif dan eksternalitas negatif.
Menilik kasus yang diceritakan si Akang, maka Abu Yuusuf pun berkesimpulan bahwa kegiatan budidaya lebah madu yang dilakukan olehnya memberikan eksternalitas positif terhadap pekebun buah-buahan di sekitarnya. Dan demikian pula sebaliknya bahwa perkebunan milik pekebun buah di sekitar tempat budidaya si Akang memberikan eksternalitas positif terhadap aktivitas budidaya lebah madu yang dimilikinya.
Setelah menyampaikan ucapan terimakasih dan membeli beras organik dari huma (ladang, padi gogo) Abu Yuusuf berpamitan untuk melanjutkan aktivitas pelatihan ekonomi sumberdaya kawasan dan lahan di Hotel Mirah. Abu Yuusuf memilih berjalan kaki diiringi seluruh peserta pelatihan.
Sesampainya di lobby hotel, Abu Yuusuf merasakan kejanggalan yang merasuki ruang hidung penciumannya.  Dan bau ini sangat tidak disukainya.  Bahkan sebagian besar ulama menyatakan makruh bagi yang melakukan aktivitas yang menyebabkan bau tersebut. Dan sebagian besar lainnya menyatakan haram. Ya, Abu Yuusuf mencium bau asap rokok.
Abu Yuusuf kembali teringat pengalaman di lapangan Sempur. Dan pada akhirnya Abu Yuusuf pun berkesimpulan bahwa aktivitas perokok yang ada di sekitarnya saat itu jelas-jelas memberikan eksternalitas negatif pada dirinya dan atau pada orang lain yang juga tidak merokok.

Selasa, Desember 30, 2014

Pencemaran



Penyerapan Karbon Bisa Sebabkan Kerusakan Biota Laut

Peneliti pada Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian Institution Washington Amerika, Nancy Knowlton mengatakan potensi penyerapan karbon (carbon sink) oleh laut memang besar akan tetapi hal tersebut dapat mengakibatkan rusaknya kehidupan biota laut. Hal tersebut dijelaskan Nancy dalam diskusi tentang keanekaragaman terumbu karang di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Kamis. “Laut memang menyimpan potensi penyerapan karbon besar tetapi dampaknya bisa mengakibatkan kadar air laut menjadi asam (asidifikasi) yang bisa menyebabkan kerusakan biota laut,” kata Nancy yang datang ke Indonesia sebagai salah satu peneliti dari Amerika Serikat pada Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manado. Kerusakan biota laut seperti karang karena asidifikasi antara lain pemutihan karang (bleaching), osteoporosis terumbu karang dan sedimentasi. Nancy mengatakan kerusakan terumbu karang memang telah berlangsung sejak lama, misalnya sekitar 80 persen terumbu karang di Karibia telah hilang selama 30 tahun sejak 1977. Dia juga menyebutkan terumbu karang di Indonesia Timur dan Papua Nugini tinggal 68 persen, sedangkan kawasan Indonesia Barat tinggal 29 persen.Kerusakan pada terumbu karang, katanya, bisa merusak simbiosis antara terumbu karang dan alga simbiotik yang terjadi karena suhu air laut yang meningkat dan kadar mineral yang tinggi (eutropic). Kematian massal biota laut juga bisa terjadi apabila suhu air laut meningkat secara mendadak atau meningkat sampai diatas suhu yang bisa ditoleransi oleh biot laut. Nancy mengatakan peningkatan suhu laut juga mengikuti peningkatan kadar karbondioksida yaitu bila suhu meningkat satu derajat maka kadar Co2 mencapai 375 ppm (part per milion), bila meningkat dua derajat maka kadar bisa menjadi 450 - 500 ppm, dan bila meningkat tiga derajat maka kadar meningkat menjadi diatas 500 ppm. Usaha konservasi terhadap biota laut termasuk terumbu karang, katanya, bisa berhasil dilakukan apabila memang terkait langsung dengan ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Misalnya dia mencontohkan di Negara Palau, konservasi terumbu karang bisa berhasil karena masyarakat mengandalkan wisata bahari seperti menyelam pada terumbu karang di daerah tersebut. Nancy juga menyebutkan bahwa nilai ekonomis terumbu karang di dunia seperti dari makanan, perikanan, keanekaragaman dan wisata bahari secara global mencapi 29,8 miliar dolar AS per tahunnya. Sedangkan di Hawai, nilai ekonomis terumbu karang bisa mencapai mencapai 361 juta dolar AS untuk non ekstraktif dan 3 juta dolar AS untuk perikanan pesisir. “Sedangkan di Indonesia bisa mencapai 1,6 miliar dolar AS per tahunnya,” tambah Nancy.(*) Jakarta (ANTARA News) -

Selasa, Desember 23, 2014

Maximizing Utility - Memaksimumkan Kepuasan


Abu Yuusuf ditugaskan kantornya untuk mengikuti sebuah presentasi laporan akhir di Kota Bontang.  Abu Yuusuf dijemput driver kantor jam 04.30 dan bergegas menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah menjemput koleganya terlebih dahulu.  Jadwal keberangkatan Abu Yuusuf dan kolega tertera pukul 08.50 dan dikarenakan masih ada waktu jeda cukup lama, maka iapun memutuskan untuk menunggu boarding pada Garuda Lounge.
Abu Yuusuf mengeluarkan 2 lembar uang pecahan 100 ribu untuk membayar biaya jasa lounge. Selama di dalam lounge, Abu Yuusuf memperhatikan bahwa kebanyakan pelanggan memanfaatkan waktu luang mereka untuk makan, minum, dan bersantai sambil menikmati beragam fasilitas yang disediakan lounge.
Rupanya setiap orang mempunyai gaya dan tradisi tersendiri untuk memaksimumkan kepuasannya selama di dalam ruangan lounge. Tidak sedikit pelanggan memanfaatkan waktu dengan sibuk memilih makanan dan minuman yang telah disediakan. Tetapi tidak sedikit pula yang memanfaatkannya dengan bermain laptop dan gadgets yang dimiliki.
Abu Yuusuf kemudian membandingkan penyediaan layanan yang disiapkan Cafe dan atau toko lain yang menjajakan hal yang sama. Dan hasilnya menunjukkan bahwa kecenderungan pelanggan Garuda Lounge lebih memperoleh kenyamanan yang lebih baik. Sebuah lounge menyediakan lebih banyak menu yang dihidangkan dan dapat dipilih, fasilitas tempat duduk dan suasana yang nyaman, fasilitas wifi dan listrik siap guna, dan ragam fasilitas lainnya. Sedangkan Cafe dan atau toko lain tidak mempunyai layanan terintegrasi dan cenderung lebih terbatas.
Sebuah nilai yang pantas bagi para pelanggan Lounge untuk memperoleh kepuasan maksimum dengan hanya mengeluarkan 1 lembar uang pecahan 100 ribu untuk waktu tunggu lebih dari 1.5 jam.

FAO 1998




ACCOUNTING METHODOLOGIES FOR CALCULATING THE DEPRECIATION OF NATURAL CAPITAL

Adjustment in National Accounts

Literature on depreciation accounting procedures of natural resource exhaustion is still open to debate about the most appropriate method.7 Economic progress has been measured in almost every nation world-wide by the system of national accounts using the Gross National Product (GNP). It uses market prices to measure the aggregate value of an economy’s output in a given year. Despite being the most used indicator of economic progress, it is widely known that GNP is a very poor approximation of economic well being. Another indicator, Net National Product (NNP), is a much better measure of well being because it accounts for the depreciation of the wealth of a country. Man-made capital for example, depreciates through time and this loss in value is captured in the NNP measure. Nonetheless NNP, in its traditional measure, only takes into account the losses of man made capital, leaving aside the depreciation of natural capital.8 This depreciation happens when the stock of a natural resource is decreased. 

The idea of adjusting the system of national accounts to incorporate the losses due to the use of natural resources, is closely related to the concept of sustainability as an indicator of sustainable development.9 Although there are many definitions of sustainable development, economic definitions have focused on sustainable development as non-declining per capita welfare over time [Pearce and Atkinson, (1995)]. The idea behind it is that every future generation must have the option of being at least as well off as its predecessor. Hence a sustainable path has the characteristic that along it, the overall productive capacity of an economy is not reduced.10

The productive capacity of an economy depends on the total stock of capital available, as well as on its productivity. If some capital is used up and not replaced, the possibilities of future production is decreased. This is not so much of an issue with physical capital, since it can be produced and replaced. Nevertheless, it is an issue with natural capital which cannot be created by mankind. Therefore, when natural resources are used up or destroyed, there is implicitly a question of substitution.

The question to ask is, at each point in time, how much of the natural capital productive base can be used up? The answer given by economic theory is based on two different approaches developed in a parallel way and yielding theoretically equivalent results. Both aim at measuring the impacts of resource depletion on long run human welfare, but while they are equivalent in theory, they will not yield necessarily the same result in practice.11

The first approach was derived in Hartwick (1977). He showed that so long as the capital stock of an economy did not decline over time, non-declining consumption was possible. We can illustrate Hartwick’s idea with a simple economy consisting of two types of capital: physical and natural capital denoted by Kt and Rt, respectively. The net investment in this economy is given by the gross investment minus the depreciation in each of the form of capital: . If the net investment is greater than or equal to zero, the country can at least sustain its actual consumption level. If this country produces a non-renewable resource, non-declining consumption is possible by reinvesting all Hotelling rents from the exhaustible resource in physical capital.

These rents are those resulting from an intertemporal efficient extraction programme. This is what is known in the literature as the Hartwick rule. It tell us the amount that we have to invest in other forms of capital when we extract a natural resource and earn rents on it. It was shown by Solow (1986) that it also represents a requirement to "keep capital intact". There are two important assumptions implicit in Hartwick’s result. First, physical capital and natural capital are assumed to be close substitutes.12 Second, the model assumes that an individual only derives utility from the consumption of goods and not directly from the environment.

The second approach was developed from the work of Weitzman (1976) on Net Domestic Product (NDP). We can define NDP for an economy with balanced trade13 as, . Weitzman (1976) demonstrated that under optimal growth, NDP should be though of as income in the Hicksian sense14 interpreted as a long run measure of economic well-being, that is, the stationary equivalent of future consumption. In this sense, national wealth for a country would be given by the present value of the best consumption path into the future that society can afford.15 Weitzman proved that Net National Product (NNP) in any year t is equal to the discount rate (social rate of time preference)16 multiplied by wealth: NNP(t)=ρ W(t). Based on this result, he argued that a true measure of NDP should include the value of changes in resource stocks. Consequently, the net investment should be defined taking into account the depreciation in all types of capital, not only physical. Weitzman (1976) result depends on two crucial assumptions: first that a country growth path is optimal and second that social welfare equals consumption.

In both of the approaches presented above, we need an estimate of the depreciation of natural capital in order to subtract it from the value of the capital stock. In this manner we would adjust the gross investment to net investment. For an exhaustible resource, Hartwick and Hageman (1993) define depreciation as the change in value of an exhaustible resource under optimal use.

If optimality conditions do not hold and substitution possibilities between physical capital and natural capital are restricted, then, the above approaches face criticisms on the basis of sustainability views. These approaches are regarded as based on the weak sustainability principle which sustains that natural capital can be permanently substituted by physical capital. Consequently, when natural resources are extracted, we can set aside part of its revenue to invest in physical capital and maintain intact the economy’s productive capacity. 

This idea is not widely accepted. For some natural resources serving as production factors, there could be thresholds, carrying or assimilative capacity, causing some types of natural capital to be hardly substitutable. Many assets are essential to human being survival in the long run and this point of view is expressed in the strong sustainability concept, based on the conservation of many types of natural capital (i.e. maintaining them intact for future generations) or recognition of their safe minimum standards. Although depreciation methods can be analysed along these sustainability principles,17 the proposed depreciation methodologies can be generalized as elaborated in V&H (1997) and summarized in the following sub-sections.

The Change in Value Method

Depreciation of an asset over a period of time can be calculated as the value of the asset in the beginning of the period minus the value of the same asset in the end of the period. This method is known as the change in value method. Adopting the definition of income as the level of consumption that could be enjoyed without diminishing the capital stock, we can define depreciation as the consumption of the assets in excess of this amount. More formally, depreciation exists when there is degradation of a resource. If we have the value of a resource at the end of a period and the value at the beginning of the period, we can calculate the depreciation of the resource as the difference between the two values.18 Defining the value of a resource as the discounted sum of the resource rents that are generated over time19 and using some algebraic manipulation, we can express the depreciation of an asset as:20

(1)

The previous expression is known as the fundamental equation of asset equilibrium. Although in theory it is a good representation for the depreciation of an asset, carrying out the previous calculation in practice has many complications. We would need projection of the future flow of rents, in which case we need prices, quantities extracted and cost schedules into a future finite stream.

Total Hotelling Rent as Depreciation

Hotelling rent (HR) is defined as the rent that exists on the marginal quantity of an exhaustible resource (price minus marginal cost) and it is considered a measure of the intertemporal scarcity of that resource. This rent exists because the resource is exhaustible and consequently, the owners of the resource extract less than the amount that would equate marginal revenue to marginal cost. Multiplying the HR by the quantity extracted of the resource, gives the total Hotelling rent. It is interpreted as the portion of profit that accrue to extractive firms because they are mining an exhaustible resource.Hartwick (1988) proved that along dynamically efficient paths of extraction, Hotelling rent and economic depreciation (with a negative sign) are equals. Using this result, it is possible to use a short cut to calculate economic depreciation. Nevertheless, it is important to note that this equivalence is only correct under certain conditions, namely: a) resource extracted optimally, i.e., Hotelling’s rule holds; b) price of extracted resource constant over time; c) marginal cost as an increasing function of the amount extracted, unrelated to the size of the reserve and constant over time; and d) constant discount rate over time.

The Net Price Method (NPM)

As it was mentioned previously, under special conditions, economic depreciation of natural resources can be approximated by the Hotelling rent. This last term was defined as price minus marginal extraction cost (the profit on the marginal ton extracted), multiplied by the amount extracted. Hence we can use the following expression to calculate the depreciation of natural capital from the NPM:

(2)

In theory this method would be easier to apply than the change on value method. Nevertheless in practice, the data on marginal extraction cost is not generally available. Consequently previous studies that attempted to calculate depreciation of natural capital used the so called net price method. It uses data on average cost instead of marginal cost and calculates the depreciation as:

(3)

It is important to note that, as it was mentioned by several authors,21 using the average net price instead of the marginal net price, one is calculating the total resource rent which overstates net accumulation (unless the MC=AC as in the case of a linear cost function).

The El Serafy Method (ESM)
Alternatively to the net price method, El Serafy (1989) developed a method to calculate depreciation based on the concept of user cost. He equates the finite stream of rents earned by a resource to an annuity X earned forever, which can be obtained by selling the mine and depositing the value of the mine (V) in a bank account. Mathematically this is given by:

(4)

where r is the discount rate, n+t is the last year of the extraction, X is the annuity received and R is the rent defined as . The expression R-X is a measure of depreciation, and El Serafy (1989) simplifies further the analysis to obtain a closed form solution.Assuming that the rent is constant over time,22 such that , the equation above is simplified to:
(5)

The previous expression is the user cost or economic depreciation for the ESM. It is important to note that as Hartwick and Hageman (1993) pointed out, if R(t) changes over time, the measure R-X could be a poor approximation to R(t+i)-X in period i, consequently the ESM would yield a poor approximation of the depreciation value. In the ESM, n is the remaining years of life of the resource stock. This is estimated by dividing total reserves remaining by the year’s quantity extracted. This calculation implicitly assumes that this year’s extraction will continue into the future at the same rate. If S(t) is the remaining stock of the resource at period t and q(t) the quantity extracted of the resource in the same period, we can express ESM formula to estimate depreciation as:

(6)



Vincent and Hartwick Approach


(7)

Where β is the elasticity of the marginal cost curve with respect to the quantity extracted. It is important to note that on the previous formula, for relative elastic marginal cost curves (β≥1), unit price has to be at least twice as large as the unit average cost. Otherwise, one would witness a negative estimate of depreciation which would not make economic sense in presence of increasing depletion. This arithmetical trap is only due to the simplification of the isoelastic assumption of the marginal cost curve.Another approach used by Vincent (1997), is to use the previous total cost function and the fact that under an optimal extraction path, the transversality condition implies that MC=AC when the resource is exhausted. As a result, it is shown that for the previous functional form, this transversality condition occurs if and only if q(t)=MC=AC=0 in the final period. Using the Hotelling rule and the fact that MC(T)=0, Vincent (1997) derives the following expression for the Hotelling rent:

(8)

The previous expression is a generalization of the net price and El Serafy methods in the sense that it embodies both estimations as particular cases. If , equation (8) simplifies to the ESM and If , the whole right hand side goes away and the Hotelling rent would just equal the total rent.The usefulness of the previous formula is that in practice it is much easier to find data available for the average cost than for the marginal cost. However, estimating β can be a practical complication. Obviously the elasticity of marginal cost will vary depending on the nature of the resource (timber, oil, etc.) and type of industries.23 Equations (7) and (8) are presented by Hartwick and Vincent (1997) as being equivalent. The choice of which one to use depends just on the availability of data. If data is obtainable on the average extraction cost, then one can use expression (7) to estimate the depreciation. If instead, data is available on the resource rent, Vincent (1997) has demonstrated that expression (8) is an alternative measure of the Hotelling rent. Nevertheless it is noted in Vincent (1997) that expression (7) would yield less accurate estimates of economic depreciation than formula (8). This would happen due to the fact that formula (7) is based on current marginal rent and, on the other hand, expression (8) is based on long run principles. Although Vincent (1997) is correct in his concern for estimating long run instead of short run Hotelling rents, it is not clear in his argument why the formula from expression (8) would take into account out of equilibrium behaviour in the timber market. Since it also uses current price and costs of logged wood, any tendency of resource prices to fluctuate in the short run will be incorporated into his estimates using expression (8) as well as expression (7).Moreover, since expression (8) incorporates a discount rate and formula (7) does not, any bias caused by fluctuation in prices could be compensated by biases caused by the choice of an incorrect discount rate. Consequently, it does not seem to exist any a priori reason why biases in the discount rate chosen would not be even worse than biases from price fluctuations or out of the equilibrium behaviour in timber markets. In spite of previous points, our estimates of depreciation values will follow equation (8) and we will be assuming additionally permanent conversion of forest land to agriculture purposes. This would imply that we will not be considering any form of reforestation or second growth forest conversion.