Economic Value of Energy - Nilai Ekonomi Energi
Abu Yuusuf
mendapatkan pelajaran tentang bagaimana menentukan kadar nilai suatu
batu cincin atau batuan hiasan. Abu Yuusuf tertegun melihat sebuah batu cincin
mempunyai respon yang berbeda terhadap layar sebuah perangkat
elektronik (gadgets/computer) yang menggunakan teknologi layar sentuh
(touch screen).
Abu Yuusuf kemudian mempraktekkan pengetahuan yang baru
diperolehnya terhadap 9 buah batu yang dimilikinya. Abu Yuusuf ingin
mencoba mana batu yang responnya positif dan mana yang tidak merespon.
Batu pertama "mirah rose" dicobakan untuk menggerakkan
layar "Samsung DOUS", "Samsung Tablet 10.1 inch" dan "OPPO" miliknya.
Hasilnya, layar dari ketiga gadgets tersebut tidak memberikan respon
apa-apa.
Percobaan kedua kembali Abu Yuusuf lakukan terhadap batu
kedua "giok hijau" dan hasilnya persis sama dengan hasil percobaan
pertama. Demikian pula dengan percobaan ketiga hingga ketujuh yang Abu
Yuusuf lakukan terhadap batu "amatis", "kecubung air", "rambut cendana",
"rubby/delima merah", dan "hijau lumut" yang juga tidak menunjukkan
respon apa-apa.
Namun, pada percobaan kedelapan dan kesembilan, yaitu pada
batu "black oval afrika" dan "bacan", maka ketiga gadgets nya merespon
positif, bahkan dapat digerakkan seperti layaknya jari tangan memainkan
layar gadgets nya tersebut. Maka, dengan serta ia pun mensosialisasikan
pengetahuan yang sudah dibuktikannya tersebut kepada para koleganya yang
punya minat serupa.
Seorang sesepuh kolega kemudian bertanya bagaimana mungkin
teknologi modern dapat disinkronkan dengan pengetahuan perbatuan yang
cenderung tradisional. Apa yang mendasari pengetahuan ini? Dan apakah
dapat digunakan untuk menentukan berharga tidaknya sebuah batu cincin.
Sepintas waktu Abu Yuusuf berpikir dan sebuah hipotesis pun muncul.
Abu Yuusuf berpandangan bahwa bisa atau tidaknya sebuah
batu direspon oleh layar sentuh tidak serta merta menunjukkan bahwa batu
tersebut tidak berharga. Respon itu menunjukkan bahwa batu yang dapat
merespon positif diduga memiliki materi energi yang terkandung di
dalamnya. Energi ini dinamakan energi potensial (stored energy) dan
batu yang dibentuk dari possil makhluk hidup yang lebih tua dapat
menyimpan energi yang lebih baik ketimbang batu cincin lainnya.
Energi yang tersimpan dalam sebuah batu bilamana digesek,
akan menimbulkan energi kinetik (energi gerak) yang dapat membentuk
energi mekanik yang mampu menggerakkan suatu materi termasuk layar
sentuh gadgets.
Sesepuh kolega tersebut kembali bertanya lalu adakah
kaitannya dengan batu cincin bertuah. Abu Yuusuf hanya menjawab lirih
bahwa pada dasarnya setiap sesuatu yang membawa manfaat dan memang
dirasakan bermanfaat, maka batu bertuah dapat dikatakan ada, karena pada
dasarnya setiap energi potensial yang ada pada suatu benda tentu
mempunyai khasiat atau tuah yang berbeda sesuai kadar yang dimilikinya.
Tapi semua berpulang pada izin Alloh SWT. Karena semua yang terjadi di
dunia tidak pernah luput dari campur tangan Alloh di dalamnya.
Seperti halnya makanan yang dipercaya sangat dibutuhkan
tubuh untuk berproses kimia dan menghasilkan energi kimia untuk membantu
organ tubuh menjalankan kinerja nya. Demikian pula dengan batu
berkhasiat juga dapat memainkan perannya mendistribusikan energi yang
dapat digunakan untuk membangkitkan energi yang dibutuhkan manusia.
Nuklir dan batubara adalah contoh sumber energi yang dapat
membangkitkan energi yang dibutuhkan manusia. Keduanya mempunyai kadar
energi potensial yang berbeda dan memberikan dampak energi kinetik yang
berbeda sehingga mempunyai benefit dan dampak yang berbeda pula.
Batu cincin, nuklir, batu bara dan sumberdaya alam lainnya
yang memiliki muatan energi di dalamnya secara tidak langsung juga
memiliki nilai ekonomi. Sumberdaya ini mempunyai nilai ekonomi yang
berbeda sesuai dengan kapasitas dan risiko lingkungan yang melekat di
dalamnya. Nilai ini sering dinamakan sebagai nilai ekonomi energi.
by. YW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar