Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, Desember 21, 2014

Economic Value of Energy - Nilai Ekonomi Energi

Economic Value of Energy - Nilai Ekonomi Energi


Abu Yuusuf mendapatkan pelajaran tentang bagaimana menentukan kadar nilai suatu batu cincin atau batuan hiasan. Abu Yuusuf tertegun melihat sebuah batu cincin mempunyai respon yang berbeda terhadap layar sebuah perangkat elektronik (gadgets/computer) yang menggunakan teknologi layar sentuh (touch screen).
Abu Yuusuf kemudian mempraktekkan pengetahuan yang baru diperolehnya terhadap 9 buah batu yang dimilikinya. Abu Yuusuf ingin mencoba mana batu yang responnya positif dan mana yang tidak merespon.
Batu pertama "mirah rose" dicobakan untuk menggerakkan layar "Samsung DOUS", "Samsung Tablet 10.1 inch" dan "OPPO" miliknya. Hasilnya, layar dari ketiga gadgets tersebut tidak memberikan respon apa-apa.
Percobaan kedua kembali Abu Yuusuf lakukan terhadap batu kedua "giok hijau" dan hasilnya persis sama dengan hasil percobaan pertama. Demikian pula dengan percobaan ketiga hingga ketujuh yang Abu Yuusuf lakukan terhadap batu "amatis", "kecubung air", "rambut cendana", "rubby/delima merah", dan "hijau lumut" yang juga tidak menunjukkan respon apa-apa.
Namun, pada percobaan kedelapan dan kesembilan, yaitu pada batu "black oval afrika" dan "bacan",  maka ketiga gadgets nya merespon positif, bahkan dapat digerakkan seperti layaknya jari tangan memainkan layar gadgets nya tersebut. Maka, dengan serta ia pun mensosialisasikan pengetahuan yang sudah dibuktikannya tersebut kepada para koleganya yang punya minat serupa.
Seorang sesepuh kolega kemudian bertanya bagaimana mungkin teknologi modern dapat disinkronkan dengan pengetahuan perbatuan yang cenderung tradisional. Apa yang mendasari pengetahuan ini? Dan apakah dapat digunakan untuk menentukan berharga tidaknya sebuah batu cincin. Sepintas waktu Abu Yuusuf berpikir dan sebuah hipotesis pun muncul.
Abu Yuusuf berpandangan bahwa bisa atau tidaknya sebuah batu direspon oleh layar sentuh tidak serta merta menunjukkan bahwa batu tersebut tidak berharga. Respon itu menunjukkan bahwa batu yang dapat merespon positif diduga memiliki materi energi yang terkandung di dalamnya.  Energi ini dinamakan energi potensial (stored energy) dan batu yang dibentuk dari possil makhluk hidup yang lebih tua dapat menyimpan energi yang lebih baik ketimbang batu cincin lainnya.
Energi yang tersimpan dalam sebuah batu bilamana digesek, akan menimbulkan energi kinetik (energi gerak) yang dapat membentuk energi mekanik yang mampu menggerakkan suatu materi termasuk layar sentuh gadgets.
Sesepuh kolega tersebut kembali bertanya lalu adakah kaitannya dengan batu cincin bertuah. Abu Yuusuf hanya menjawab lirih bahwa pada dasarnya setiap sesuatu yang membawa manfaat dan memang dirasakan bermanfaat, maka batu bertuah dapat dikatakan ada, karena pada dasarnya setiap energi potensial yang ada pada suatu benda tentu mempunyai khasiat atau tuah yang berbeda sesuai kadar yang dimilikinya. Tapi semua berpulang pada izin Alloh SWT. Karena semua yang terjadi di dunia tidak pernah luput dari campur tangan Alloh di dalamnya.
Seperti halnya makanan yang dipercaya sangat dibutuhkan tubuh untuk berproses kimia dan menghasilkan energi kimia untuk membantu organ tubuh menjalankan kinerja nya. Demikian pula dengan batu berkhasiat juga dapat memainkan perannya mendistribusikan energi yang dapat digunakan untuk membangkitkan energi yang dibutuhkan manusia.
Nuklir dan batubara adalah contoh sumber energi yang dapat membangkitkan energi yang dibutuhkan manusia.  Keduanya mempunyai kadar energi potensial yang berbeda dan memberikan dampak energi kinetik yang berbeda sehingga mempunyai benefit dan dampak yang berbeda pula.
Batu cincin, nuklir, batu bara dan sumberdaya alam lainnya yang memiliki muatan energi di dalamnya secara tidak langsung juga memiliki nilai ekonomi. Sumberdaya ini mempunyai nilai ekonomi yang berbeda sesuai dengan kapasitas dan risiko lingkungan yang melekat di dalamnya. Nilai ini sering dinamakan sebagai nilai ekonomi energi.

by. YW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar